TINTARIAU.COM DUMAI Jumat, 6 Februari 2026 – Bagi kebanyakan remaja usia 17 tahun, masa SMA adalah masa bermimpi setinggi langit. Namun bagi Adnan Hidayat, siswa kelas 2 SMAN 2 Dumai, mimpinya nyaris terkubur bukan karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena selembar kertas bernama LKS.
Kisah pilu ini terungkap saat Kapolres Dumai, AKBP Angga Febrian Herlambang, menyambangi kediaman keluarga Adnan di Kecamatan Dumai Timur, Jumat (6/2/2026). Niat awal sang Kapolres adalah membantu adik Adnan, Aska (6), yang sebelumnya viral karena seragam sekolahnya yang lusuh. Namun, di balik pintu rumah kayu itu, kenyataan yang lebih pahit menunggu.
Bertahan dengan “Warisan” SMP dan Sambal Mi Instan
Saat ditemui, Adnan tampak kikuk. Di usianya yang sudah beranjak dewasa, ia terpaksa harus mengenakan seragam SMP untuk pergi ke sekolah SMA. Bukan karena gaya, tapi karena orang tuanya tidak pernah mampu membelikan seragam baru sejak ia lulus tiga tahun lalu.
Kondisi ekonomi keluarga ini memang sedang di titik nadir, Sang Ayah (Jarno) Tak lagi bisa menafkahi karena mengalami patah kaki permanen. Sang Ibu Berjuang sendirian sebagai buruh cuci untuk menghidupi lima orang anak.
Saat rombongan Kapolres datang, keluarga ini hanya mampu menyajikan sambal mi instan untuk dimakan bersama satu keluarga.”Dia bilang tak ada biaya buat beli buku LKS. Jadi, dia ada niat untuk berhenti sekolah,” ungkap AKBP Angga dengan nada prihatin.
Polemik LKS: Haruskah Jadi Penghalang Ilmu? Yang paling menyesakkan, niat Adnan untuk putus sekolah dipicu oleh tagihan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang tak sanggup ia bayar. Hal ini memicu reaksi keras dari Kapolres Dumai.
Secara tegas, AKBP Angga menyatakan akan melakukan pendalaman ke Dinas Pendidikan terkait praktik jual beli LKS di sekolah tersebut. Mengingat, aturan pemerintah sebenarnya melarang keras praktik yang membebani siswa kurang mampu seperti Adnan.
Secercah Harapan di Hari Jumat, Tak datang dengan tangan hampa, Kapolres Dumai membawa ,”keajaiban” kecil bagi keluarga Jarno. Bantuan yang diberikan mencakup:
Perlengkapan Sekolah Lengkap: Seragam baru (yang sesuai jenjangnya), tas, buku, hingga sepatu untuk tiga anak Jarno. Ketahanan Pangan: Stok sembako mulai dari 30 kg beras, susu, hingga roti kaleng agar mereka tak lagi hanya makan mi instan.
Bantuan Operasional: Uang tunai untuk kebutuhan harian dan pengisian token listrik yang sempat sekarat.”Semoga dengan bantuan ini, mereka bisa sekolah dengan nyaman dan semangat belajar lagi,” pungkas Angga.
( Redaksi TR / Sri.N / Sumber Dilansir dari KOMPAS.com )















