TINTARIAU.COM DUMAI Kamis,06 Agustus 2026 -Dugaan Keracunan Makanan Kembali Mencoreng Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Sehat Sejahtera Bersama Kota Dumai, Puluhan siswa-siswi SMAN 2 Dumai dilaporkan mengalami gejala mual, pusing, sakit perut, hingga demam tinggi usai menyantap hidangan yang didistribusikan oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sehat Sejahtera Bersama yang dibawah naungan yayasan Cahaya Bintang Abadi, pada Selasa (4/8/2026), Yang beralamat di Jalan Merdeka Lama.
Menu yang disajikan pada hari tersebut terdiri dari nasi putih, ayam woku, tahu goreng saus, buah semangka, dan tumis kacang panjang.Gejala mulai dirasakan para siswa beberapa jam setelah mengonsumsi makanan tersebut hingga memuncak pada Selasa malam.
Bahkan, seorang siswa berinisial O harus dilarikan ke salah satu Rumah Sakit yang ada di Kota Dumai pada Kamis (6/8/2026) pukul 03.00 WIB dini hari akibat mengalami kondisi serius, Orang tua pasien mengonfirmasi bahwa anaknya didiagnosis mengalami infeksi pada makanan oleh tim medis.
“Sore Selasa itu setelah pulang sekolah anak saya mengalami pusing, mual, sakit perut, hingga muntah, mencret, dan demam. Kamis dini hari dokter menyatakan anak saya harus dirawat, namun dalam hal ini saya tidak bisa menjustifikasi kasus ini terjadi dari MBG,”ujar orang tuanya saat dikonfirmasi di ruang perawatan.

Pihak sekolah membenarkan adanya rentetan laporan tersebut. “Kami mendapatkan laporan langsung dari orang tua murid bahwasanya anak-anak mereka merasakan sakit perut, mual, dan pusing usai menyantap makanan yang didistribusikan ke sekolah,” ungkap perwakilan SMAN 2 Dumai.
Menanggapi insiden ini, tim gabungan yang terdiri dari Dinas Kesehatan Kota Dumai, Puskesmas Jaya Mukti, Satintelkam Polres Dumai, hingga BPOM langsung menerjunkan tim investigasi ke SMAN 2 Dumai dan lokasi dapur penyedia.
Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Kota Dumai, Suryani, menegaskan bahwa pihak pemerintah bergerak cepat melakukan penanganan di lapangan.
“Begitu dapat informasi tersebut, kami langsung mengambil langkah cepat turun ke lapangan untuk melakukan investigasi ke sekolah dan ke dapur SPPG, Dominan anak-anak mengalami mual, pusing, dan sakit perut pada malam hari, walaupun ada yang sudah merasakan gejala empat jam setelah makan, Kami bekerja sesuai prosedur, sampel makanan sudah dikirim ke Labkes Provinsi Riau dan hasilnya sedang kita tunggu,” terang Suryani.

Kepala SPPG Sehat Sejahtera Bersama, Habibi, menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Satgas MBG Kota Dumai dan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait insiden ini.
“Kami dengan tim, setelah dikabarkan oleh pihak sekolah pada Rabu (5/8), langsung menuju ke sekolah dan menerima keterangan.
Selanjutnya kami menyediakan dokter dari Labkes untuk pengecekan dan pemberian obat, Sore harinya kami mendampingi pengambilan sampel makanan untuk diuji lab, Pihak Satgas Kota Dumai dan BGN juga sudah bergerak melakukan investigasi,” jelas Habibi.
Terkait siswa yang harus menjalani rawat inap, Habibi mengaku sudah mendapatkan informasi tersebut. “Kami Sudah tahu, kami juga akan mengecek anak tersebut ke rumah sakit, Karena banyak tim Satgas yang datang ke dapur, jadi kami harus membagi waktu terlebih dahulu,” tambahnya.

Kasus dugaan keracunan ini kian menuai sorotan publik mengingat rekam jejak penyedia yang dinilai bermasalah.
Berdasarkan pemberitaan media online Tintariau.com edisi 10 Maret 2026 dengan judul “Buruknya Kwalitas SPPG Sehat Sejahtera Bersama, Diduga Mark Up Anggaran, Sajikan Makanan Tidak Layak di Tengah Program Nasional”,Dapur tersebut sebelumnya pernah diduga kedapatan menyajikan makanan yang tidak layak konsumsi.
Insiden terulang lagi, yang melibatkan dapur SPPG Sehat Sejahtera Bersama, ini memicu reaksi keras dari kalangan tokoh masyarakat Kota Dumai, Sutris Salah satu tokoh masyarakat Dumai mengatakan,”Kejadian ini tidak bisa dianggap sebagai kelalaian biasa,
Karena menyangkut keselamatan dan kesehatan generasi muda kita yang di SMAN 2 Dumai, Apalagi dapur SPPG Sehat Sejahtera Bersama ini sudah pernah disorot media terkait kualitas makanan yang buruk pada 10 Maret 2026 yang lalu.

Harusnya ada evaluasi total dan sanksi tegas dari Badan Gizi Nasional maupun Pemko Dumai.
Kami mendesak aparat terkait dan BPOM untuk mengusut tuntas hasil uji laboratorium secara transparan, Jika terbukti ada kelalaian atau unsur ketidaklayakan dalam pengolahan makanan, izin operasional dapur tersebut harus dicabut dan pengelolanya ditindak secara hukum.
Jangan jadikan anak-anak sekolah sebagai korban dari tata kelola penyediaan makanan yang asal-asalan Ujar Sutris.
( Redaksi TR / Sri.N / Team )















