Bangunan Bersejarah di Kota Bagansiapiapi Diduga Dibiarkan Ditelantarkan

JJJA

TINTARIAU.COM ROHIL Bagansiapiapi Kamis, 22 Oktober 2026 – Sejumlah bangunan bersejarah di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, saat ini kondisinya sangat tidak terawat.

​Bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi tersebut kini kondisinya memprihatinkan karena diduga dibiarkan rusak begitu saja hingga terkesan kumuh dan menyeramkan.

​Kondisi ini terekam kamera media Tinta Riau pada Rabu (21/10/2026) saat mendatangi beberapa aset bangunan milik Pemkab Rokan Hilir.

​Salah satunya adalah bekas Kantor DPRD Kabupaten Rokan Hilir yang berada di Jalan Merdeka. Gedung yang menjadi saksi bisu perjalanan berdirinya Kabupaten Rokan Hilir tersebut kini tampak terbengkalai dan tidak terurus. Bahkan, area halamannya kini beralih fungsi menjadi tempat bisnis kuliner dan kafe.

​Selain itu, dermaga Pelabuhan Bagansiapiapi juga mengalami nasib serupa, diduga kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten maupun DPRD Kabupaten Rokan Hilir.

​Ironisnya, sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan, hingga kini Bagansiapiapi tidak memiliki pelabuhan resmi. Untuk aktivitas naik-turun penumpang lokal rute Bagansiapiapi, Panipahan, dan Pulau Halang, warga harus menumpang di dermaga atau tangkahan milik pengusaha mendiang O Liong alias Kasim.

​Pemkab Rohil dinilai lebih memilih opsi pinjam pakai pelabuhan milik warga yang berada di kawasan pesisir laut Kelurahan Bagan Barat.

​”Pemerintah Daerah memiliki APBD setiap tahunnya, tetapi pilihannya terkesan tidak rasional. Publik bertanya-tanya, pinjam pakai ini berapa lama? Lima tahun, sepuluh tahun, atau selama-lamanya?” ujar Johan (61), warga Bagansiapiapi, Rabu (21/10/2026).

​Tak kalah menyedihkan, pusat perbelanjaan yang memiliki histori sejak zaman Sultan Siak, Sultan Syarif Kasim-yakni Pasar Pelita yang dibangun pada tahun 1980 melalui proyek Inpres Presiden Soeharto – kini bernasib sama.

​Pasar Pelita yang sempat dimodernisasi pada masa kepemimpinan Bupati H. Annas Maamun tersebut kini kondisinya rusak berat. Beberapa bagian los pedagang bahkan diduga telah menjadi sasaran pencurian. Pemerintah Daerah terkesan lebih memilih mengizinkan pedagang berjualan di jalan umum.

​Patut diduga ada kendala tata kelola dan komitmen keberlanjutan dalam hal ini, mengingat setiap pergantian kepala daerah, kondisi bangunan-bangunan bernilai sejarah ini tak kunjung mendapat penanganan serius.

​Johan, seorang seniman sekaligus warga Bagansiapiapi, menyikapi situasi ini dari sudut pandangnya sebagai masyarakat tempatan.

​”Jika sejak awal kerusakan ini diperbaiki, tentu kondisinya tidak akan separah ini. Harapan kami sebagai masyarakat Bagansiapiapi, tolong perbaiki dan revitalisasi bangunan-bangunan ini karena merupakan salah satu ikon kota, agar tidak menjadi tempat yang menyeramkan,” harapnya.

( Redaksi TR / Mashur )

Penulis: MashurEditor: Redaksi TR